Plato Eternity Ocha

Plato Eternity Ocha

Rabu, 23 November 2011

Lukaku

Sore tadi aku termenung sendiri mulai dari pagi..
Temen-temen kuliahku menanyakan sikapku itu..
Aku tak mampu mengutarakan isi hatiku yang bergejolak ini..

Ingin sekali rasanya marah dan berteriak saat itu..
Namun aku tak mampu dengan kondisiku begini..
Ingin sekali berlari menuju Bukit Anugrah dan berteriak seperti dulu..
Tak kuasa menahan gejolak sakitnya hati ini..

Temanku masih berusaha mencari tahu apa hal yang membuatku begini..
Tak mampu menahan rasa sakit yang masih terasa ini..
Akhirnya aku meneteskan airmata dan memeluk temanku,sahabat baruku ini..
Aku menangis dan mengatakan aku rindu Wahyu...

Aku masih sayang ama Wahyu..
Selama ini aku berusaha tersenyum dihadapan kalian karna aku tak ingin buat kalian sibuk ngehibur aku..
Tapi maaf teman,aku tak mampu membohongi rasa ini..
Rasa yang bergejolak dihatiku ini..

Masih sangat mencintanya..
Sampai kapan aku akan membohongi hatiku ini bahwa aku masih cinta??
Berusaha tersenyum sesempurna mungkin,tapi tak bisa..
Tawa dan senyumanku masih belum maksimal..

Kadang aku terjatuh jika tiba-tiba ada kejadian sama terulang didepanku saat bersamanya..
Aku sedih dan sering tanpa kusadari airmataku ini menetes..
Ada rasa kesepian dan kehampaan luar biasa dihati ini yang tak mampu kuungkapkan lewat kata-kataku..
Bahwa sebenarnya Aku masih sayang banget ama Wahyu..

Tuhan,rasa ini Engkau yang Anugrahkan buatku untuk kuberi padanya..
Tuhan,jika ini adalah garisan takdir percintaanku dengannya yang harus melukai hatiku aku terima Bapa..
Aku relakan semuanya jika Engkau mampu buatnya tersenyum dan penuh wajah sukacita dengan pasangannya yang sekarang ini..
Ajar aku untuk melupakannya Tuhan..
Biarkan aku mencoba untuk mengobati sendiri Lukaku ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar